JENDELA HATI
Tak biasanya jendela itu terbuka setelah cahaya pergi,
Sebuah aroma yang belum pernah hadir mulai melewati,
Pertama terhirup membuat bulu hidung terasa berdiri,
Untuk yang kedua diriku menjadi menikmati,
Selanjutnya penciumanku selalu menanti dan mencari Kapan aroma itu datang kembali,
Bila sudah begitu jendela itu menjadi tak terkendali,
Dia menjadi lupa kepada siapa harus terbuka atau terkunci.
Selasa, 07 Juli 2009
Jendela Hati
Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah di 01.26
Label: syair, Tinta Emas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar